Mahakamtoday.com, KLATEN — Dugaan keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Tulung, Klaten, berdampak luas. Mayoritas kasus dialami siswa SMPN 1 Tulung, dengan ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala.
Keluhan yang muncul beragam, mulai dari mual, pusing, sakit perut hingga diare. Gejala tersebut mulai dirasakan pada Selasa (28/4/2026) sore, beberapa jam setelah makanan dikonsumsi.
Camat Tulung, Hendri Pamukas, menjelaskan laporan awal diterima sekitar pukul 19.00 WIB. Pendataan kemudian dilakukan bersama Polsek, Koramil, Puskesmas, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sorogaten.
“Sampai pukul 23.00 WIB, dari pendataan ada dua orang yang dirawat inap di PKU Jatinom dan empat orang dirawat di Puskesmas Majegan. Kemudian pada Rabu pukul 01.30 WIB, tambah satu lagi [dirawat inap],” ungkap Hendri saat ditemui wartawan di Kecamatan Tulung, Rabu (29/4/2026).
Mayoritas dari SMPN 1 Tulung
Hendri menyebut jumlah warga yang mengalami gejala mencapai lebih dari 150 orang. Sebagian besar menjalani rawat jalan, dengan kasus terbanyak berasal dari siswa SMPN 1 Tulung.
“Untuk data sementara sampai pukul 09.00 WIB, ada sembilan orang yang dirawat inap di Puskesmas Majegan dan dua orang di PKU Jatinom. Mudah-mudahan tidak bertambah,” kata Hendri.
Data dari pihak sekolah menunjukkan angka yang lebih besar. Hingga Rabu siang, tercatat 225 siswa mengalami gejala dari total 668 siswa.
Sebanyak 11 siswa menjalani rawat inap, terdiri atas dua orang di PKU Muhammadiyah Jatinom dan sembilan orang di Puskesmas Majegan. Selain itu, sekitar 18 guru juga mengalami gejala serupa, meski tidak sampai dirawat inap.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMPN 1 Tulung, Kris Hadiana, menjelaskan distribusi MBG dilakukan pada Selasa pagi.
“Tidak ada tanda-tanda makanan basi ataupun yang lain. Makanya kami bagikan karena memang waktu datang itu layak untuk dikonsumsi. Sampelnya juga sudah dicoba bapak/ibu guru,” ungkap Kris saat ditemui di sekolah.
Gejala mulai dirasakan pada sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB. Sekolah kemudian berkoordinasi dengan orang tua siswa agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Salah satu orang tua siswa, Joko Susilo, mengungkapkan anaknya mulai mengalami gejala beberapa jam setelah mengonsumsi MBG.
“Sekitar pukul 19.00 WIB masuk ke sini [Puskesmas Majegan],” kata Joko.
Ia menjelaskan anaknya sempat membawa pulang makanan yang diterima dari sekolah.
“Karena setelah ujian, kemarin itu pulang sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Datang ke sekolah untuk ambil MBG kemudian dimakan di rumah. Pukul 14.30 WIB itu baru mulai merasakan gejala,” jelas Joko.
SPPG Ditutup Sementara, Uji Lab Ditunggu
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo telah mengecek langsung dapur SPPG Sorogaten serta kondisi siswa di fasilitas kesehatan.
Pemerintah daerah menegaskan penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel makanan. Untuk sementara, operasional SPPG Sorogaten dihentikan selama tiga hari guna evaluasi.
Kepala SPPG Sorogaten, Roni, menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dan menunggu hasil uji laboratorium.
“Kami terus berkoordinasi dengan Forkopimcam dan Forkopimda. Untuk sampel sudah diujikan dan kami menunggu hasil laboratorium terlebih dahulu, untuk memastikan bahan menu apa dari kami yang diduga menyebabkan gejala keracunan,” ungkap Roni saat dihubungi Espos, Rabu.
Ia menambahkan, selama ini proses penyediaan menu telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP), mulai dari penyiapan bahan hingga distribusi.
Kasus ini masih dalam tahap penelusuran. Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar penentuan penyebab pasti sekaligus langkah penanganan lanjutan.

Leave a Reply