Mahakamtoday.com, SEMARANG — Ningsih (48), karyawan kios bumbu dapur Prasojo, tampak memilah sisa-sisa barang yang masih bisa diselamatkan seusai kebakaran melanda Pasar Kanjengan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (30/4/2026) pagi.
“Ini lagi cari kentang yang bisa diselamatkan. Kalau masih bisa dijual, syukur. Kalau tidak bisa, ya kami bagikan,” ucap Ningsih saat ditemui Espos, Kamis.
Ningsih terlihat terpukul melihat kios tempatnya bekerja ludes terbakar pada Rabu (29/4/2026) malam. Kondisi tersebut membuatnya kehilangan pekerjaan setelah dua tahun bekerja di kios bumbu dapur itu.
Di samping Ningsih, berdiri pemilik kios Prasojo, Darti (53), yang tampak berusaha tegar melihat tempat usahanya hangus tak tersisa. Sejak malam, Darti mengaku belum sempat beristirahat dan masih memandangi sisa kiosnya dengan wajah lelah dan terpukul.
“Saya jualan sayur, cabai, bumbu dapur. Sudah usaha ini sejak 1990-an. Saya juga termasuk korban kebakaran Pasar Johar dulu. Ini sudah dua kali kios saya jadi korban kebakaran,” ujar Darti.
Darti memperkirakan kerugian materiil yang dialaminya mencapai sekitar Rp30 juta hingga Rp40 juta. Terlebih, kiosnya baru saja diisi stok barang sebelum kebakaran terjadi.
“Tidak ada yang bisa diselamatkan. Kios di Pasar Kanjengan itu ada yang menunggu. Apinya cepat membesar, jadi langsung lari ke luar,” imbuhnya.
Bagi Darti, kios sayur dan bumbu dapur tersebut merupakan penopang utama ekonomi keluarga. Sebagai orang tua tunggal, ia mengandalkan usaha itu untuk menghidupi empat anaknya.
“Sekarang kehilangan mata pencaharian, harus mulai dari nol lagi dan cari modal. Perasaan saya hancur, bingung nanti melangkah bagaimana. Setidaknya pemerintah harus ada solusi, misalnya pasar darurat, secepatnya, jangan lama-lama,” paparnya.
Pemilik kios konveksi, Bibit Widodo, juga mengalami hal serupa setelah usahanya ludes akibat kebakaran. Ia mengaku baru membuka usaha di Pasar Kanjengan sekitar 2019.
“Kerugiannya sekitar puluhan juta. Saya punya tiga kios, jualannya baju dewasa. Masih syok karena kebakaran tak terduga ini, semuanya habis,” tutur Bibit.
Bibit menjelaskan kios tersebut menjadi sumber utama penghidupan keluarganya. Meski penjualan tidak selalu stabil, usaha tersebut mampu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membesarkan anak-anaknya.
Kini, ia kehilangan mata pencaharian akibat kebakaran tersebut. Ia berharap ada kompensasi yang dapat digunakan sebagai modal untuk kembali memulai usaha.
“Kami ingin ada ganti rugi. Tapi rakyat kecil bisa apa? Kalau saya baru pertama jadi korban kebakaran,” ujarnya.
Bibit juga menyebut sumber api yang memicu kebakaran hebat di Pasar Kanjengan diduga berasal dari deretan kios di bagian timur. Ia berharap pihak kepolisian dapat mengusut penyebab kebakaran tersebut secara tuntas.
“Harapannya, kami dicarikan tempat yang lebih layak untuk berjualan lagi, supaya bisa menghidupi keluarga. Selain itu, kami juga butuh modal usaha untuk bangkit kembali,” tandasnya.

Leave a Reply