Mahakamtoday.com, KARANGANYAR — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mulai bergerak untuk menghidupkan kembali kejayaan Air Terjun Grojogan Sewu Tawangmangu sebagai ikon wisata andalan daerah.
Destinasi legendaris di lereng Gunung Lawu ini dalam lima tahun terakhir kondisinya sepi pengunjung. Upaya menghidupkan kembali Grojogan Sewu dilakukan, setelah Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Yoppy Eko Jatiwibowo, melakukan kunjungan lapangan dan berdialog langsung dengan pengelola beberapa waktu lalu.
“Jadi saya diperintahkan Bapak Bupati dan Ketua DPRD Jateng, bapak Sumanto yang memang tokoh di Karanganyar untuk melihat Grojogan Sewu. Bagaimana caranya Grojogan Sewu tetap hidup dan kembali berjaya sebagai ikon Karanganyar,” ujar Yoppy kepada Espos, Sabtu (2/5/2026).
Dari hasil pengecekan tersebut, terungkap sejumlah persoalan mendasar yang selama ini membatasi ruang gerak pengembangan wisata. Menurutnya Grojogan Sewu masih memiliki daya tarik kuat, namun menghadapi berbagai kendala yang membuat perkembangannya tersendat.
Salah satu persoalan utama adalah masa kontrak pengelolaan yang akan berakhir pada 2029. Dengan sisa waktu sekitar tiga tahun, pengelola disebut cenderung berhati-hati dalam melakukan investasi maupun inovasi pengembangan.
“Karena masa kontraknya tinggal beberapa tahun, mereka menjadi serba terbatas. Mau ekspansi atau menambah fasilitas baru jadi berpikir ulang,” jelasnya.
Selain itu, status kawasan sebagai hutan konservasi di bawah kewenangan pemerintah pusat juga menjadi tantangan tersendiri. Berbagai aturan yang ketat membuat pengelola tidak leluasa mengembangkan konsep wisata yang lebih modern dan mengikuti tren pasar.
“Di kawasan konservasi itu aturannya sangat ketat. Mau membuat wahana baru, memodifikasi area, bahkan menghadirkan konsep seperti camping, glamping, atau campervan itu tidak bisa sembarangan,” katanya.
Kondisi tersebut berdampak pada minimnya inovasi di lapangan. Padahal, tren wisata saat ini menuntut pengalaman baru yang lebih variatif dan interaktif bagi pengunjung. Tak hanya dari sisi regulasi, beban biaya juga menjadi sorotan.
Yoppy mengungkapkan, pengelola tidak hanya membayar sewa lahan, tetapi juga dibebani Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dikenakan pada setiap tiket masuk. Saat ini, harga tiket masuk Grojogan Sewu dipatok Rp27.000 per pengunjung pada hari biasa dan Rp29.500 saat akhir pekan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp15.000 merupakan PNBP yang harus disetorkan ke kas negara.
“Artinya, pengelola ini menanggung beban ganda. Sudah membayar kontrak sewa lahan, masih harus menyetor PNBP dari tiket. Ini cukup berat,” ungkapnya.
Pengunjung Rata-rata 100 Orang per Hari
Skema tersebut turut memengaruhi harga tiket yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah destinasi lain di sekitarnya. Di sisi lain, keterbatasan inovasi membuat daya saing Grojogan Sewu menurun. Yoppy menyebut dampaknya terlihat pada angka kunjungan wisatawan yang belum optimal. Berdasarkan data di lapangan, jumlah pengunjung harian Grojogan Sewu rata-rata tidak mencapai 100 orang. Sementara pada akhir pekan, angka kunjungan berkisar 500 orang per hari.
“Untuk ukuran destinasi ikonik, angka itu masih tergolong rendah,” kata Yoppy.
Menghadapi kondisi tersebut, Yoppy menambahkan Pemkab Karanganyar menyiapkan sejumlah langkah strategis jangka pendek untuk menghidupkan kembali daya tarik Grojogan Sewu. Salah satunya melalui penyelenggaraan berbagai event yang melibatkan masyarakat dan komunitas.
“Kita akan coba hidupkan dengan event, seperti fun run, lomba menari, lomba melukis anak-anak, dan kegiatan lain yang bisa menarik pengunjung datang,” ujarnya.
Selain itu, promosi berbasis digital juga akan diperkuat dengan menggandeng vlogger, YouTuber, dan konten kreator untuk memperluas jangkauan publikasi. Pemkab ingin Grojogan Sewu kembali ramai dikunjungi. Meski demikian, Yoppy menegaskan bahwa upaya jangka panjang tetap membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah pusat, khususnya terkait fleksibilitas pengelolaan kawasan konservasi dan skema pembiayaan.
Hasil evaluasi ini, lanjut dia, akan dilaporkan kepada Bupati Karanganyar serta dikomunikasikan dengan pemangku kepentingan di tingkat provinsi hingga pusat.
“Kami berharap ada solusi, terutama terkait PNBP. Kalau sudah bayar kontrak, harapannya ada keringanan. Ini akan kami dorong untuk dibahas di tingkat lebih tinggi,” tandasnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkab Karanganyar optimistis Grojogan Sewu dapat kembali bangkit kejayaannya sebagai ikon wisata Karanganyar.

Leave a Reply