Tebing Banggi, Tempat Healing Eksotis di Lekukan Tebing Lereng Merapi Boyolali

Tebing Banggi, Tempat Healing Eksotis di Lekukan Tebing Lereng Merapi Boyolali
Pengendara motor melewati jalanan di area Tebing Banggi, Dukuh Taring, Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Kamis (25/6/2026). (Daerah/Ni’matul Faizah)

Mahakamtoday.com, BOYOLALI — Di sela-sela lekukan jalanan lereng Gunung Merapi Boyolali dengan pemandangan tebing tinggi dan nuansa hijau, ada tempat wisata eksotis bernama Tebing Banggi. Lokasinya berada di wilayah tertinggi Kecamatan Cepogo terdekat dengan Gunung Merapi yaitu Desa Wonodoyo.

Untuk menuju Tebing Banggi bisa dengan berkendara dari Pasar Sayur Cepogo ke selatan menuju Desa Gedangan, lalu ke barat menuju Desa Wonodoyo. Lokasi Tebing Banggi juga bisa diakses menggunakan aplikasi Google Maps.

Perpaduan tebing tinggi, ladang hijau, dan kelokan jalan membuat lokasi ini sangat menarik untuk berfoto estetik dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Saat Espos berkunjung ke Tebing Banggi pada Kamis (25/6/2026) pagi, kabut menyelimuti pemandangan hijau karena hujan baru saja mengguyur lereng Merbabu.

Udara segar langsung menyelimuti paru-paru setelah menempuh jalan berkelok naik dan turun dari Gedangan hingga Wonodoyo membuat jantung berdebar dan mata waspada. Sekretaris Desa Wonodoyo, Sihono, mengatakan Tebing Banggi masuk wilayah Dukuh Taring. Ia menyebut Tebing Binggi berada di ketinggian sekitar 1.100-1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Tebing Banggi sering dikunjungi para pegowes dan rombongan sepeda motor klasik hingga motor gede (moge) yang berkendara sampai Tebing Banggi. Banyak orang yang menjadikan Tebing Banggi sebagai spot foto atau video estetik. “Tebing Banggi ini juga sudah pernah menjadi tempat ambil video anak ISI, katanya buat film. Terus juga ada pembuatan video klip,” kata dia kepada Espos, Sabtu (27/6/2026).

Jalan Tembus

Tebing-tebing di wilayah itu, sebut Sihono, tingginya sekitar 70 meter-100 meter. Lalu, terdapat jurang sedalam sekitar 30 meter dengan nama Banggi. Karena itulah tebing di sekitarnya juga dinamakan Tebing Banggi. Soal asal muasal nama Banggi, Sihono mengatakan hal tersebut masih perlu dicari.

Ia mengatakan jalanan di Tebing Banggi baru bisa dilewati kendaraan seusai erupsi Gunung Merapi 2010. Sebelumnya, jalanan di sekitarnya hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki.

Setelah erupsi Gunung Merapi, Pemdes Wonodoyo kemudian membuat jembatan yang menghubungkan antara sisi selatan dan utara Jurang Banggi. Sejak itu, Tebing Banggi menjadi spot yang dikenal banyak pelancong.

Jalanan di area Tebing Banggi menjadi jalan tembus baru penghubung Dukuh Taring di sisi selatan jurang dengan dukuh-dukuh di sisi utara seperti Dukuh Wonosari. “Sementara Tebing Banggi belum bisa kami kelola karena kendala pembiayaan. Kedua, itu akses jalan umum, jalan tembus. Akses wisata pengemasannya seperti apa juga belum tahu. Kalau kami buka lahan ke barat, arahnya bisa dikembangkan ke situ,” kata dia.

Sementara itu, salah satu warga Solo yang mengunjungi Tebing Banggi, Naufal Firmansyah, mengatakan baru kali pertama datang ke Tebing Banggi. Ia tahu lokasi tersebut dari media sosial.

“Kebetulan saya cari tempat untuk ngadem yang cukup sepi, ternyata di sini sangat bagus dan indah. Jalan-jalannya berkelok dengan tebing-tebing dan suasana hijau, sangat jauh suasananya dari keramaian Kota Solo,” kata dia. 

Leave a Reply