Mahakamtoday.com, SEMARANG – Jawa Tengah menjadi provinsi dengan tingkat penggunaan bahasa daerah tertinggi di Indonesia pada 2025. Persentase penggunaan bahasa daerah di provinsi ini bahkan melampaui Jawa Timur (Jatim) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang selama ini dikenal kuat memakai bahasa daerah dalam kehidupan sehari-harinya.
Data tersebut jadi sorotan dan perhatian publik setelah diunggah akun Instagram @jatengstats. Dalam unggahan itu, Jawa Tengah menempati posisi pertama di Pulau Jawa untuk penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi dengan keluarga maupun masyarakat.
“Jawa Tengah menjadi provinsi dengan persentase penggunaan bahasa daerah tertinggi di Pulau Jawa pada 2025 mencapai 96,13 persen. Angka tersebut sedikit lebih unggul dibanding Jawa Timur sebesar 95,83 persen dan DIY sebesar 90,08 persen,” tulis akun tersebut dikutip Espos, Jumat (17/7/2026).
Penelusuran Espos menunjukkan data tersebut berasal dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Dalam survei itu, Jawa Tengah tidak hanya menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa, tetapi juga menempati peringkat pertama secara nasional dalam penggunaan bahasa daerah untuk berkomunikasi sehari-hari.
Sumatera Barat, Sumatera Selatan hingga Kepulauan Bangka Belitung juga mencatat persentase penggunaan bahasa daerah sangat tinggi, masing-masing tiga provinsi di atas angkanya di atas 93 persen.
Ketua Tim Kerja Indikator Statistik Sosial BPS Jawa Tengah, Harjo Teguh Ilmiana, mengatakan survei SUPAS 2025 yang telah dilakukan itu memiliki tujuan untuk mengetahui bahasa yang digunakan masyarakat dalam interaksi sosial sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Pertanyaan ditujukan kepada penduduk usia lima tahun ke atas untuk melihat bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial di rumah atau keluarga dan lingkungan masyarakat,” kata Harjo saat dihubungi Espos, Jumat.
Lebih lanjut, Harjo membeberkan bahasa daerah yang dicatat dalam survei tidak selalu mengikuti latar belakang etnis atau keturunan seseorang. Penilaian dilakukan berdasarkan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bahasa yang dimaksud tidak selalu mengikuti keturunan, contohnya, seseorang yang secara garis keturunan berasal dari suku Melayu tetapi sehari-hari menggunakan Bahasa Jawa, maka bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Jawa,” jelas Harjo.
Proses SUPAS 2025 di Jawa Tengah sendiri melibatkan 55.776 rumah tangga sebagai sampel. Hasilnya menunjukkan penggunaan bahasa daerah masih sangat dominan di tengah masyarakat.
“Ini menggambarkan dari seluruh penduduk Jawa Tengah usia lima tahun ke atas, sebanyak 96,13 persen menggunakan bahasa daerah dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan keluarga atau masyarakat,” tukasnya.

Leave a Reply