Kemarau Panjang, 3.000 Warga Semarang Salat Istisqa Minta Hujan

Kemarau Panjang, 3.000 Warga Semarang Salat Istisqa Minta Hujan
Suasana ribuan warga Karangroto, Kecamatan Genuk Kota Semarang melaksanakan salat istisqa di lapangan terbuka, Selasa (1/9/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Mahakamtoday.com, SEMARANG — Di bawah terik matahari, ribuan warga berkumpul di lapangan sepak bola Kelurahan Karangroto, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Selasa (1/9/2026) pagi. Mereka datang membawa perlengkapan salat dan memanjatkan doa agar hujan segera turun di tengah kemarau panjang.

Sekitar 3.000 jemaah, mulai dari orang dewasa hingga anak sekolah, mengikuti salat istisqa yang dimulai sekitar pukul 08.12 WIB. Salat sunah dua rakaat tersebut dipimpin tokoh agama setempat, Muhammad Shohib.

Lapangan yang biasanya digunakan untuk berolahraga berubah menjadi tempat warga menaruh harapan. Doa-doa dipanjatkan untuk meminta hujan kepada Allah Swt. seiring mulai berkurangnya debit sumber air dan munculnya dampak kekeringan di sejumlah wilayah.

Tokoh agama setempat, Muhammad Shohib, 58, menjelaskan salat istisqa dilaksanakan sebagai bentuk permohonan rahmat Allah agar hujan segera diturunkan.

“Debit-debit air yang mulai berkurang di musim kemarau menjadi keprihatinan kita bersama. Dengan salat istisqa ini, kami meminta rahmat dari Allah agar segera diturunkan hujan,” ucap Shohib kepada Espos, Selasa.

Menurut Shohib, air dibutuhkan bukan hanya oleh manusia, tetapi juga tumbuhan dan hewan. Karena itu, hujan diharapkan dapat menjaga keberlangsungan kehidupan sekaligus mengurangi dampak kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat.

Ia menjelaskan salat istisqa dianjurkan dilaksanakan di tempat terbuka. Sebelum menunaikan salat sunah muakkadah tersebut, umat muslim juga dianjurkan berpuasa selama tiga hari.

Masyarakat yang memiliki hewan ternak juga dianjurkan mengeluarkannya dari rumah dan, jika memungkinkan, membawanya ke lokasi salat.

“Ibaratnya itu kita betul-betul butuh. Karena tidak hanya manusia saja, termasuk hewan-hewan yang juga membutuhkan air,” ungkapnya.

Ribuan Warga dan Anak Sekolah Berdoa Bersama

Camat Genuk Wahyudi mengatakan pelibatan anak sekolah dalam salat istisqa menjadi sarana pembelajaran. Menurut dia, tidak semua pelajar mengetahui tata cara dan pelaksanaan salat untuk meminta hujan tersebut.

“Ada sekitar 3.000 jemaah termasuk anak-anak sekolah di Karangroto. Pelaksanaan salat istisqa sarana belajar dan praktik untuk anak sekolah,” imbuh Wahyudi.

Wahyudi mengatakan kebakaran lahan dan kekeringan di sejumlah tempat di Kota Semarang menjadi salah satu alasan digelarnya salat istisqa. Bagi masyarakat muslim, salat tersebut menjadi bentuk ikhtiar dan doa bersama agar hujan segera turun.

“Dampak musim kemarau salah satunya debit air di PDAM Kudu mulai berkurang. Salat istisqa ini bentuk kepedulian bersama terhadap wilayah-wilayah yang terdampak musim kemarau,” tandasnya.

Leave a Reply