Serunya Ratusan Pencinta Sepeda Onthel Jateng-Jatim Keliling di Jalanan Magetan

Serunya Ratusan Pencinta Sepeda Onthel Jateng-Jatim Keliling di Jalanan Magetan
Salah satu pecinta sepeda High-Wheeler asal Sukoharjo, Jawa Tengah, Suroso saat menunjukan sepeda miliknya di Lapangan Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, Minggu (5/4/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Mahakamtoday.com, MAGETAN – Lapangan Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menjelma jadi arena pameran ratusan sepeda kuno unik, Minggu (5/4/2026) pagi. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah sepeda kayuh bergaya Eropa dengan ciri khas roda depan besar yang dikenal dengan nama Penny-farthing atau High-Wheeler. Selain itu, ada juga sepeda dengan gaya nyentrik dengan aksesoris tulang belulang hingga senapan.

Sepeda yang populer di tahun 1870 hingga 1880-an itu dikayuh oleh seorang pria bernama Suroso, pencinta sepeda kuno asal Sukoharjo, Jawa Tengah, yang  memutari rute parade sepeda onthel sejauh 11 kilometer. Sepanjang jalan, warga sekitar nampak mengabadikan momen Suroso mengayuh sepeda yang melaju relatif lebih cepat dari sepeda kuno lain.

Berbeda dengan sepeda pada umumnya, sepeda High-Wheeler ini memiliki pedal payuh yang menyatu dengan poros roda depan sehingga putaran roda lebih cepat karena tidak memakai rantai.

Saat berbincang dengan Espos, ia mengaku datang jauh-jauh dari Sukoharjo hanya untuk bersua dengan rekan-rekan sesama pencinta sepeda kuno dalam acara peringatan satu windu Peguyuban Sepeda Onthel Karangmojo (Pasoka). Ia menceritakan, kecintaan dirinya kepada sepeda tua bermula dari perkenalannya dengan seorang teman yang mempunyai sepeda model serupa.

“Saya dulu awalnya pencinta onthel kebo, tapi pas waktu Covid-19 saya kenalan dengan beberapa teman yang punya sepeda kaya gini, akhirnya saya juga ikutan beli dan jadi hobi sampe sekarang,” ujarnya sambil mengelap keringat.

Suroso membeberkan, besi tua yang telah berusia lebih dari se-abad itu ia peroleh dari wilayah Kabupaten Brebes dengan kondisi yang masih harus mendapat perawatan tambahan karena tidak terawat. Setelah ia beli dengan harga jutaan rupiah, sepeda itupun Suroso boyong ke Sukoharjo guna dilakukan restorasi agar layak dan aman dikendarai.

Soal perawatan, Suroso juga menambahkan tidak ada treatment khusus yang ia gunakan. Setiap hari, ia hanya mengelap sisi demi sisi besi sepeda agar tidak cepat berkarat dan rutin memberi pelumas oli di bagian poros roda dan setir agar tetap nyaman digunakan.

“Ga banyak yang bisa naikin sepeda ini, seringnya pada jatuh semua karena ada tekniknya. Saya aja sudah 4 kali jatuh, nilainya sudah ga bisa dirupiahin sepeda ini,” ungkapnya sambil tersenyum.

Selain Suroso, banyak pencinta sepeda kuno lain yang memiliki karakter unik. Hal itu diwujudkan dengan hiasan-hiasan di sepeda onthel mereka seperti replika senjata api, alat musik portable, hingga tulang belulang hewan lengkap dengan tanduknya.

Pak Mada, salah satu pecinta sepeda onthel nyentrik asal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengaku pemasangan tulang belulang hewan, gitar akustik, hingga dupa (pewangi khas Jawa) di sepeda onthel berusia ratusan tahun miliknya merupakan bentuk kebebasan berekspresi.

Ia menegaskan, pemasangan beragam aksesoris itu tidak mengurangi standar keselamatan karena dipasang dengan kencang dan ditali berulang-ulang.

“Ini konsepnya apa adanya, sepeda ini sudah turun temurun dirawat dan masih saya gunakan hingga saat ini. Ini nuansanya adat Jawa yang disimbolkan dengan gentong tanah liat berukuran kecil dengan dupa,” jelasnya.

Sementara itu, ketua panitia acara tersebut, Siswanto mengaku para pencinta sepeda onthel itu banyak datang dari sejumlah daerah baik Jawa Timur maupun Jawa Tengah. Dalam acara yang baru digelar perdana itu, sedikitnya 500 pengonthel dari berbagai kalangan usia datang lengkap dengan kostum khas jaman 1980-an.

“Yang datang ada dari Ponorogo, Madiun, Ngawi, Tuban, sampai Jawa Tengah. Mereka berkeliling memutari ruas jalan sekitar sini yang kira-kira jaraknya 11 kilometer,” kata dia.

Leave a Reply