Lima Proyek Green Impact Hasilkan Dampak Nyata, 886 Kg Limbah Berhasil Diolah

Lima Proyek Green Impact Hasilkan Dampak Nyata, 886 Kg Limbah Berhasil Diolah
Akumulasi dampak utama lima proyek Green Impact Project 2026 yang menunjukkan persoalan lingkungan di sekitar dapat menjadi titik awal untuk menciptakan solusi yang memiliki nilai lebih.

Mahakamtoday.com, SOLO— Lima proyek mahasiswa dalam Green Impact Project 2026 tidak hanya menghasilkan gagasan dan inovasi pengelolaan lingkungan. Implementasi di lapangan juga menunjukkan dampak yang terukur, mulai dari pengolahan limbah, keterlibatan masyarakat, hingga munculnya nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.

Hal tersebut terlihat dari hasil pengukuran Social Return on Investment (SROI) terhadap lima proyek Green Impact Project 2026. Head of Daerah Institute, Syifaul Arifin, mengatakan secara akumulatif kelima proyek telah mengolah lebih dari 886 kilogram sampah organik dan tekstil serta menyelamatkan sekitar 40 liter minyak jelantah.

“Kalau dilihat secara keseluruhan, lima proyek ini sudah menghasilkan dampak yang cukup nyata. Lebih dari 886 kilogram sampah organik dan tekstil berhasil diolah, ditambah sekitar 40 liter minyak jelantah yang berhasil diselamatkan dari potensi pembuangan,” kata Syifaul.

Menurutnya, dampak tersebut tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya volume sampah. Masing-masing proyek juga memberikan manfaat kepada kelompok masyarakat yang berbeda.

Total terdapat lebih dari 480 orang yang menjadi penerima manfaat maupun terlibat dalam pelaksanaan program. Mereka berasal dari berbagai kelompok, mulai dari mahasiswa, pedagang pasar, UMKM, kelompok tani, ibu-ibu PKK, hingga penjahit lokal.

“Yang kami lihat bukan hanya berapa kilogram sampah yang berhasil ditangani, tetapi juga siapa saja yang terlibat dan manfaat apa yang mereka dapatkan dari program tersebut,” jelasnya.

Dari sisi lingkungan, kelima proyek juga berkontribusi terhadap pencegahan pencemaran. Pengolahan limbah membantu mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, mengurangi persoalan bau dari sampah pasar, sekaligus mencegah potensi pencemaran pada sejumlah daerah aliran sungai seperti Code, Winongo, dan Gajah Wong.

Dampak tersebut muncul melalui pendekatan yang berbeda dari masing-masing tim. Limbah tekstil diolah menjadi produk baru, bonggol jagung dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur, minyak jelantah diolah menjadi sabun cuci piring, sementara sampah organik diolah melalui sistem berbasis maggot dan lele.

Menurut Syifaul, kesamaan dari kelima proyek tersebut terletak pada upaya membangun ekonomi sirkular, yakni mengubah material yang sebelumnya dianggap sebagai waste menjadi barang atau sumber daya yang kembali memiliki nilai guna.

“Seluruh proyek ini memiliki satu benang merah, yaitu bagaimana sampah tidak berhenti sebagai sampah. Ada yang diubah menjadi produk, ada yang menjadi bahan untuk proses produksi berikutnya, dan ada yang menghasilkan nilai ekonomi,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa manfaat program lingkungan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Selain manfaat ekologis berupa pengurangan limbah dan pencemaran, terdapat pula manfaat sosial melalui keterlibatan dan peningkatan kapasitas masyarakat serta manfaat ekonomi dari produk maupun efisiensi yang dihasilkan.

Hasil pengukuran SROI ini sekaligus memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah proyek lingkungan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kegiatan yang dilakukan. Keberhasilan juga dapat dilihat dari seberapa jauh kegiatan tersebut menghasilkan perubahan dan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat maupun lingkungan.

Lima proyek Green Impact Project 2026 pun menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di sekitar dapat menjadi titik awal untuk menciptakan solusi yang memiliki nilai lebih. Dari sampah tekstil, bonggol jagung, minyak jelantah hingga limbah organik, semuanya dapat diolah menjadi bagian dari siklus baru yang lebih bermanfaat.

Leave a Reply